LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
PERSILANGAN DIHIBRID PADA
DROSOPHILA
Di
Susun oleh:
Nama :
Furqon Faizah
NIM : 1101070012
Prodi /Kelas : pend. Biologi / 3B
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
PERSILANGAN
DIHIBRID PADA DROSHOPILA
I.
TUJUAN
·
Untuk membuktikan hukum Mendel II yang
dikenal dengan “hukum pemisahan bebas”, dengan perbandingan fenotip 9:3:3:1
·
Menganalisis data menggunakan
chi-kuadrat untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan data dengan hukum
mendel II
·
Untuk mengetahui hasil keturunan dari
perental yang berupa F1 dan F2
II.
DASAR TEORI
Seperti yang telah kita ketahui bahwa suatu individu tidak
hanya mewarisi satu sifat dari induknya saja tetapi dapat beberapa sifat
sekaligus yang diperoleh dari ayah dan ibunya contohnya seorang anak mewarisi
rambut lurus dari ayahnya dan kulit putih dari ibunya, yang demikian itu adalah
persilangan dihibrid jadi persilangan dihibrid
adalah persilangan dengan menggunakan dua sifat yang berbeda. (Tjan Kiauw
Nio,1991:41)
Persilangan dihibrid yang merupakan pewarisan dua pasang
sifat itu diawasi oleh dua pasang gen yang yang terletak pada dua kromosom yang
berlainan. Contohnyapada percobaan yang dilakukan oleh Mendel pada tanaman
ercis yang menggunakan dua pasang sifat beda yaitu tanaman ercis yang berbiji
berkerut dan berbunga putih (bbmm) disilangkan dengan tanaman berbiji bulat dan
memiliki bunga berwarna merah homozigotik (BBMM). Maka semua keturunan F1
(dihibrid) adalah sama, yakni berbiji bulat dan memiliki bunga berwarna merah (
BbMm). Kemudian persilangan antara F1 x F1 menghasilkan keturunan F2 yang
memperlihatkan 16 kombinasi yang terdiri dari 4 macam fenotip yaitu berbiji
bulat dan bunga warna merah, berbiji bulat bunga warna putih, berkerut dan
bunga warna merah serta biji berkerut dan bunga warna putih
Dengan demikian Mendel mengambil kesimpulan bahwa anggota
dari sepasang gen itu memisah secara bebas (artinya tidak saling mempengaruhi)
ketika berlangsung meiosis selama pembentukan gamet-gamet. Dan hal ini di
rumuskan dalam Hukum Mendel II yakni “the law of independent assortment of
genes” atau hukum pengelompokan gen secara bebas. (Suryo,1990:95)
Apa yang dimaksud oleh Mendel itu dalam hukumnya yang kedua
ini, dapat difahami apabila kita memperhatikan susunan kromosom pada saat
metafase 1 meiosis . susunan yang sembarang dan bebas itu yang telah
memungkinkan terbentuknya empat macam gamet dengan perbandingan yang sama dan
memiliki rasio fenotip 9:3:3:1 yang merupakan hasil yang khas diperoleh dari
penyilangan-penyilangan antara individu-individu yang heterozigitik untuk dua
pasang gen, apabila pasangan-pasangan gen tersebut terletak pada dua kromosom yang
berlainan. ( Tjan Kiauw Nio,1991:44)
III.
ALAT DAN BAHAN
Ø
ALAT
o
Botol eterisasi
o
Cawan petri dengan kapas untuk pembiusan kembali
o
Botol berpipet yang berisi eter
o
Botol mutan dengan sumbat plastik
o
Botol pembunuh berisi detergen
o
Styrofoam
o
Kuas kecil
Ø
BAHAN
o
Medium
o
keturunan F2 dari Drosophila melanogaster
IV.
CARA KERJA
1. Menyiapkan
botol kultur yang akan diamati yang berisi keturunan F2 dari persilangan Drosophila melanogaster
2. Melakukan
pembiusan dengan cara mengetuk-ngetuk botol lalat buah di atas styrofom setelah
lalat turun ke bawah, buka sumbat busa kemudian tutup dengan botol eterisasi ( dipertautkan ), dan biarkan lalat berpindah dari botol
kultur ke botol eterisasi, setelah lalat masuk semua ke botol eterisasi
sehingga hanya meninggalkan larva dan pupa di botol mutan, buka dan tutup botol eterisasi dengan sumbat untuk
pembiusan, kemudian teteskan eter ke pipa sumbat (kurang lebih 3 tetes) dan
tunggu sampai lalat pingsan
3. Setelah
lalat pingsan, memindahkan lalat buah dari botol eterisasi ke cawan petri untuk
pengamatan dan memberi sedikit kapas di cawan petri untuk pembiusan kembali
4. Mengamati
dan menentukan parentalnya dan menghitung jumlah lalat buah masing-masing dari
masing-masing jenis lalat buah tersebut
5. Setelah
data dari masing-masing diketahui, kemudian menganalisis dengan teknik analisis
chi-kuadrat
6. Setelah
mengetahui hasilnya, kemudian membuat
kesimpulan dari analisis tersebut
V.
HASIL
Data yang
diperoleh dari hasil pengamatan adalah sebagai berikut:
Normal
|
Curled
|
Dumpy
|
Curled
Dumpy
|
Jumlah
|
|
Jumlah
individu yang diamati (ft)
|
128
|
46
|
44
|
16
|
234
|
Jumlah
individu yang diharapkan
|
131,625
|
43,875
|
43,875
|
14,625
|
234
|
v
Maka jumlah individu yang diharapkan dapat
dihitung sebagai berikut:
Normal = 9/16 x 234 = 131,625
Curled = 3/16 x 234 = 43,875
Dumpy
= 3/16 x 234 = 43,875
Curled dumpy = 1/16 x 234 = 14,625
v
Derajat Kebebasan = K-1
= 4-1
=3
X²t
(dk,t) = X²t
(4-1, 0,05)
= X²t (3, 0,05)
= 7,815
x²= ∑ 
Dari
perhitungan diatas maka:
X2 =
+
+ 
=
+
+
+ 
=
+
+
+ 
= 0,0998 + 0,1029 +
0,00036 + 0,129
= 0,3321
Jika hasil ini
dibandingkan dengan tabel chi-kuadrat, maka hasil tersebut menunjukan menerima
hipotesis nol, sehingga tidak menyimpang dari hukum Mendel II dengan taraf
kepercayaan 95%
v
Persilangan
P = Cu + dp +
― ― X ― ―
Cu + dp +
Gamet= +,cu dan +,dp
F1 = + +
― , ―
Cu dp
P2 = + + + +
― ― X ― ―
Cu dp Cu dp
F2 =
Ø
Jadi perbandingan normal : curled : vestigial :
curled vestigial adalah 9:3:3:1
Secara skematis dapat ditunjukkan sebagai berikut :

curled dumpy
P
: (cucuDpDp) (dpdpCuCu)
F2 gamet - DpCu -
dpcu
♀ ♂
|
DpCu
|
dpCu
|
Dpcu
|
Dpcu
|
DpCu
|
DpDpCuCu
Normal
|
DpdpCuCu
Normal
|
DpDpCucu
Normal
|
DpdpCucu
Normal
|
dpCu
|
DpdpCuCu
Normal
|
dpdpCuCu
dumpy
|
DpdpCucu
Normal
|
dpdpCucu
dumpy
|
Dpcu
|
DpDpCucu
Normal
|
DpdpCucu
Normal
|
DpDpcucu
Curled
|
Dpdpcucu
Curled
|
dpcu
|
DpdpCucu
Normal
|
dpdpCucu
dumpy
|
Dpdpcucu
Curled
|
Dpdpcucu
dumpy curled
|
Jadi
perbandingan normal: dumpy: curled: dumpy curled adalah 9:3:3:1
VI.
PEMBAHASAN
Persilangan dihibrid merupakan pewarisan dua sifat beda oleh dua pasang
gen yang terletak pada dua kromosom yang berbeda. Persilangan ini mengikuti
Hukum Mendel II yang berbunyi “bila dua individu berbeda satu dengan yang lain
dalam dua pasang sifat yang sepasang tidak tergantung dari pasangan sifat yang
lain”
Hukum Mendel II dapat dipahami dengan memperhatikan susunan kromosom pada
metafase 1 meiosis. Pada susunan yang bebas heterozigotik itu yang memberi
kemungkinan terbentuk empat macam gamet dengan perbandingan yang sama dengan
ratio fenotip 9:3:3:1
Hasil penyilangan Mendel ini juga dapat berlaku pada hewan dan tumbuhan yang
lain, tetapi dalam kenyataanya hasil persilangan tidak selalu sesuai dengan apa
yang diharapkan. Yang demikian ini karena adanya beberapa hubungan antara lain
persilangan gen terpaut sex, epistasi, interaksi, adanya gen yang bersifat
homozigot letal dan dominansi tidak sempurna.
Pada percobaan ini awalnya praktikan mengalami kesalahan analisis
parental karena F2 yang terlihat tampak mutan normal, curled, dan vestigial
sehingga mengambil kesimpulan bahwa parentalnya adalah curled dan vestigial
akan tetapi sebenarnya yang di anggap vestigial tersebut adalah curled dumpy
yang akan terlihat seperti vestigial
karena sayapnya yang lebih pendek dari curled dan melengkung tetapi tidak sependek vestigial, dan
praktikan kurang teliti sehingga tidak melihat mutan dumpy sehingga dianggap
berkelompok dan sama dengan normal. Tetapi setelah di teliti mutan pada F2
tersebut adalah normal, dumpy, curled dan curled dumpy, sehingga dapat
diketahui parentalnya adalah curled dan dumpy, dan setelah membuat bagan persilangan
diperoleh F1 semuanya normal.
Gan dumpy terletak pada kromosom dua sedangkan gen curled berada pada
kromosom tiga. Menurut Hukum Mendel II persilangan dengan dua sifat beda akan
bersegregasi secara bebas dengan menghasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan
9:3:3:1
Pada percobaan ini diperoleh data normal 128, dumpy 44, culed 46 dan
curled dumpy 16, setelah dilakukan analisis chi-kuadrat di peroleh hasil 0,
3321 karena lebih kecil dari tabel chi-kuadrat yaitu 7,815 maka percobaan ini
dikatakan tidak menyimpang dari Hukum Mendel II.
VII.
KESIMPULAN
·
Persilangan dihibrid merupakan pewarisan dua
pasang sifat oleh dua pasang gen yang terletak pada dua kromosom yang berlainan
·
Dengan percobaan ini praktikan membuktikan dan
menerima Hukum Mendel II yakni hukum pengelompokan gen secara bebas pada
persilangan dihibrid
·
Menggunakan analisis chi-kuadrat sehingga
diketahui bahwa hasil tidak menyimpang dari Hukum Mendel II dengan taraf
kepercayaan 95%
·
Mengetahui ratio fenotip dari persilangan
dihibrid yaitu 9:3:3:1
VIII.
DAFTAR PUSTAKA
Kiauw Nio, Tjan. 1991. Genetika Dasar. Bandung : Insitut
Teknologi Bandung
Sisunandar. 2011. Penuntun Praktikum Genetika. Purwokerto
: Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Suryo. 1990. Genetika Manusia. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press
No comments:
Post a Comment